05 March 2008

Kecap Cap Zebra - Ini Zebra Jantan atau Betina


Tebak, ini zebra jantan atau betina? Cara membedakannya, tanpa melihat genital, adalah dari pola garis. Kulit zebra jantan berlatar putih dengan garis hitam, sedangkan zebra betina sebaliknya. :D

Tak jelas mengapa pabrik kecap di Bogor ini memilih zebra sebagai merek. Mungkin untuk menonjolkan keistimewaan sebagai “kecap istimewa”: berbeda dari yang lain. Tapi misalkan mobil promosinya dicat model zebra, bisa-bisa akan disangka mobil patrolinya Taman Safari Indonesia.

Cukup tampil dengan dua warna, hitam (tinta) dan putih (kertas), label kecap cap Zebra terlihat kuat. Khusus untuk label yang menjadi sabuk botol, logoya diberi efek bersinar.


http://label.blogombal.org/2007/03/01/kecap-bergaris/

1 Maret 2007

26 February 2008

Kompas 26-Feb-08: Kupon Subsidi Kedelai Tunggu Penetapan APBN-Perubahan

Ketahanan Pangan
Kupon Subsidi Kedelai Tunggu Penetapan APBN-Perubahan
Selasa, 26 Februari 2008 | 01:42 WIB

Jakarta, Kompas - Kupon atau voucher subsidi kedelai yang dijanjikan pemerintah belum bisa segera disalurkan kepada perajin tempe dan tahu. Penyaluran subsidi pembelian kedelai masih harus menunggu penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan atau APBN-P.

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Departemen Perindustrian Fauzi Azis di Jakarta, Senin (25/2), mengatakan, dari hasil evaluasi Kantor Menteri Koordinator Perekonomian hari Minggu lalu, pemerintah mencermati kecenderungan harga komoditas di pasar dunia, seperti kedelai, minyak goreng, dan tepung terigu.

Pemerintah menilai, sejak kebijakan penurunan bea masuk dan pajak ditanggung pemerintah diterapkan, harga beberapa komoditas pangan relatif stabil. Tidak mengalami penurunan, tetapi juga tidak melonjak di luar dugaan pemerintah.

Fauzi menjelaskan, untuk komoditas kedelai, kuasa penggunaan anggaran (KPA) diserahkan ke Departemen Perindustrian. Secara teknis, pihaknya sedang mempersiapkan teknis penyaluran subsidi itu.

”Pembelian kedelai dengan sistem kupon ini diperkirakan akan berlangsung selama enam bulan. Mudah-mudahan bisa dimulai bulan Maret, setelah penetapan APBN-P dipercepat,” ujarnya.

Secara garis besar, menurut Fauzi, kupon subsidi senilai Rp 1.000 per kilogram akan diberikan langsung kepada perajin berbasis kedelai. Jumlah perajin yang mendapatkan kupon dihitung berdasarkan survei Badan Pusat Statistik.

”Jumlah perajin tahu-tempe seluruh Indonesia sekitar 115.000 orang, antara lain di Provinsi Sumatera Utara, Lampung, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Subsidi itu hanya akan diberikan kepada skala usaha mikro, yaitu perajin yang menggunakan kedelai sebanyak 100 kilogram atau kurang per hari,” jelasnya.

Secara teknis, kupon akan dibagikan melalui dinas perindustrian di setiap daerah. Sesuai koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah menetapkan lokasi penjualan dan beberapa pedagang yang siap menjual kedelai dengan sistem kupon.

Artinya, jika kedelai dijual seharga Rp 6.500 per kilogram, perajin tahu-tempe hanya membayar seharga Rp 5.500 plus menyerahkan kupon potongan harga tersebut. Kemudian, kupon-kupon yang terkumpul bisa segera ditukarkan ke bank yang ditunjuk pemerintah, misalnya, Bank Rakyat Indonesia.

Tak ada alasan menunda

Menanggapi lambannya pencairan subsidi kedelai, Sekretaris Jenderal Induk Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Inkopti) Untung Suparwo menyatakan sebenarnya tidak ada lagi alasan pemerintah menunda- tunda pencairan subsidi. Penundaan pencairan hanya membuat perajin tempe-tahu kecewa.

”Sebelumnya sudah ada kesepakatan antara DPR dan pemerintah serta perajin terkait pemberian subsidi, jadi tidak ada alasan terus menunda,” katanya.

Semakin lamban pencairan dana subsidi, makin memberatkan produsen tempe-tahu. Akibat buruknya produsen bisa kembali mengecilkan volume produk, mem-PHK para pekerja, dan sampai tahap bangkrut.

Untung juga mengatakan bahwa selain perlunya subsidi harga, perajin tempe-tahu juga mendesak pemerintah menstabilkan harga kedelai. Selama ini harga kedelai sepenuhnya tergantung dari harga di pasar dunia. Ketika harga kedelai internasional berfluktuasi, perajin tempe-tahu kalang kabut karena sulit menjual produk dan membeli bahan baku lagi. (OSA/MAS)

Sumedang 25-Feb-08: Kedelai dan Tahu Sumedang

Sumedang: Kedelai dan Tahu Sumedang

Kita semua tahu bagaimana maknyusnya tahu Sumedang. Sulit membayangkan Sumedang tanpa tahunya, walaupun akhir-akhir ini kenaikan harga kedelai membuat ancaman itu menjadi sangat nyata.

Kebutuhan Sumedang akan kedelai mencapai 20 ton per-hari. Bila petani-petani Sumedang sudah bener-bener jago, lahan Sumedang yang subur diharapkan mampu memproduksi 2 ton/ha/musim tanam (3 bulan). Simpelnya, setiap hari Sumedang harus memanen dari 1000 ha lahan, dengan rotasi penuh 3 bulan tersebut (90 hari), berarti harus ada lahan kedelai 90ribu ha. Hek hek hek!!!

Kenyataannya, untuk musim tanam 2008 ini, Sumedang cuma mampu menyisihkan lahan 6000an ha di kawasan dataran rendah dan 6000an lagi di dataran tinggi, total 12ribu ha (bandingkan dengan 90rb ha utk swasembada, baru 13% kecukupan lahan kedelai). Masih jauh dari kemampuan mencukupi kebutuhannya sendiri.

Lebih cilaka lagi, kebutuhan benih kedelai (yang cepat sekali menurun viabilitasnya itu), teoretis adalah 40kg/ha. Untuk musim tanam 2008 (12ribu ha), total keperluan benih kedelai adalah 480 ton!!! Itu dapat dipenuhi dari sekitar 200-240 ha kebun benih!!! Kebutuhan benih unggul utk kebun benih ini adalah 8 ton benih!!! Di rupiahkan??? Kalikan saja dengan Rp 15rb/kg untuk benih unggul Anjasmoro!!! Rp 120juta!!!

Lupakan saja dulu soal itu. Angka-angka mimpi yang nantinya harus kita realisasikan itu didapat sambil menikmati tahu Sumedang bersama Kang Hendra (Wado Energy Farm, kiri, foto paling bawah) dan Pak Akay Sukarya (tengah) dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Pemkab Sumedang. Kami cari tempat yang tahunya bener-bener maknyus, yaitu Warung Tahu 'Cita Rasa Sumedang' di Jalan Pangeran Kornel, tepat di seberang Grya Plaza, Sumedang. Biar semua ngiler, lihat dong foto-fotonya.

Imam Soeseno, Sumedang, 25-Feb-2008

22 February 2008

Bisnis 21-Feb-08: Penembusan rekor harga kedelai terhenti

Kamis, 21/02/2008

FLUKTUASI
Penembusan rekor harga kedelai terhenti

SINGAPURA: Penembusan rekor harga kedelai terhenti kemarin, setelah dalam lima hari terakhir mengalami peningkatan yang cukup signifikan karena dipengaruhi spekulasi China yang akan menaikkan impor komoditas itu.

Harga kedelai yang sempat menyentuh level US$14,2875 per bushel, telah meningkat hingga 83% pada akhir tahun lalu, setelah para petani AS menanam lebih sedikit komoditas itu dalam satu dekade.

"Terjadi koreksi secara teknikal, setelah sempat melonjak ke level US$14 per bushel," kata Takaki Shigemoto, analis Okachi & Co, Tokyo.

Menurut dia, jika harga mencapai level kemarin, pihaknya masih melihat potensi peningkatan harga karena dipengaruhi kuatnya permintaan China.

Harga kedelai untuk pengiriman Mei di Chicago Board of Trade kemarin turun 0,6% menjadi US$14,0975 per bushel. (Bloomberg/adn)

bisnis.com

Bisnis 22-Feb-08: Harga CPO dan kedelai makin membubung


Jumat, 22/02/2008

Harga CPO dan kedelai makin membubung

JAKARTA: Harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), kedelai, dan minyak kedelai kian membubung dan terus memperbarui rekor tertingginya di pasar kemarin.

Peningkatan harga itu terjadi seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap minyak nabati dari China, serta melonjaknya harga minyak mentah hingga menyentuh rekor tertingginya di level US$101 per barel.

Dalam perdagangan kemarin harga CPO Malaysia kembali naik 1,9% hingga memperbarui rekor tertingginya menjadi 3.693 ringgit (US$1.146) per ton.

Harga kacang kedelai dan minyak kedelai untuk pengiriman Mei di Chicago kemarin masing-masing naik 1,4% menjadi US$14,3675 per bushel dan 1,2% menjadi US$0,6223 per pon.

Head of Research PT BNI Securities Norico Gaman mengatakan CPO, kedelai, serta minyak kedelai sedang booming.

"Untuk CPO, kita lihat pasokan komoditas itu dari Malaysia mulai terbatas. Dari Indonesia, peningkatan produksi juga tidak mengikuti pertumbuhan permintaan global," katanya kepada Bisnis kemarin.

Dia memprediksi kekurangan pasok terhadap CPO itu akan menyebabkan harga rata-rata komoditas itu pada tahun ini akan mencapai US$1.200 per ton daripada harga rata-rata pada tahun lalu US$830 per ton.

Beberapa pekan sebelumnya, harga CPO sempat meningkat karena dipengaruhi kebijakan pemerintah Indonesia, pemasok komoditas terbesar dunia, terkait dengan penerapan tarif pungutan ekspor (PE).

Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun hal itu telah memicu pelaku pasar di bursa berjangka dunia terus memborong CPO.

"PE CPO Indonesia naik, dikhawatirkan ekspor berkurang. Dengan demikian pasokan ke negara konsumen akan berkurang juga, harga akan terdongkrak," katanya belum lama ini.

Permintaan China

Saat menyinggung permintaan komoditas China, Norico menambahkan tidak hanya mengalami peningkatan untuk komoditas CPO.

Dia mengatakan Negeri Tirai Bambu itu juga menaikkan permintaan kedelai dan turunannya, seiring dengan perubahan iklim yang mengganggu produksi komoditas itu dari produsen utama global.

Impor kedelai China, konsumen terbesar dunia, diprediksi menjadi dua kali lipat pada bulan ini menjadi 2,5 juta ton bila dibandingkan dengan periode yang sama akhir tahun lalu.

"Pasar cukup mendukung kuatnya permintaan komoditas China," kata Kenji Kobayashi, analis Kanetsu Asset Management Co, seperti dikutip Bloomberg.

Menurutnya, para pemodal di pasar keuangan saat ini memerhatikan curah hujan yang dapat menunda panen kedelai di pusat dan bagian selatan Brasil, eksportir komoditas terbesat minyak nabati setelah AS. (berliana.elisabeth @bisnis.co.id/adhitya@bisnis.co.id)

Oleh Berliana Elisabeth S. & Adhitya Noviardi
Bisnis Indonesia

bisnis.com

20 February 2008

Bisnis 18-Feb-08: Harga gandum, CPO & kedelai berpotensi naik sepanjang 2008


Valas & Komoditas
Senin, 18/02/2008
Harga gandum, CPO & kedelai berpotensi naik sepanjang 2008
JAKARTA: Harga komoditas bahan pangan masih berpotensi naik sepanjang 2008 khususnya produk yang memiliki peranan sebagai bahan bakar alternatif seperti gandum, kedelai, dan CPO.

Citigroup Indonesia memproyeksikan permintaan atas komoditas pangan khususnya yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif masih tinggi yakni dari negara-negara emerging market. Dengan demikian harga komoditas itu masih berpeluang naik sepanjang 2008-2009.

Namun untuk komoditas lain, khususnya logam dan minyak mentah dunia, menurut Director Country Economist Citigroup Indonesia Anton Gunawan, harganya mulai menunjukkan penurunan seiring berkurangnya permintaan.

Melambatnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) hingga menunjukkan tanda-tanda menuju resesi ekonomi, menjadi pemicu menurunnya harga logam dan minyak mentah. Permintaan akan berkurang, sehingga ekspor dari negara-negara produsen ke AS berkurang.

Perubahan harga sejumlah komoditas
TahunEthanolJagungEmasMinyak mentah
20048,25%-16,77%5,43%33,61%
20055,91%6,94%20,36%44,92%
200635,32%80,88%23,18%0,02%
2007-11,01%16,72%30,95%57,22%
Sumber: Citigroup Indonesia yang diolah dari Bloomberg

Citigroup memprediksi volume impor AS terus menunjukkan penurunan. Pada kuartal I 2008 negara itu tidak melakukan pembelian dari negara lain.

Namun pada kuartal II dan ke III volume impor terus menurun yakni menjadi minus 0,6 dan minus 0,5, dan pada kuartal keempat kembali nol.

Persediaan minyak

Departemen Energi AS pada 13 Februari 2008 melaporkan jumlah persediaan minyak mentahnya naik 6,4% menjadi 18,2 juta barel sepanjang lima pekan terakhir. Total permintaan minyak turun 1,8% menjadi 20,1 juta barel pada pekan lalu. AS merupakan negara konsumen minyak terbesar dunia.

Merrill Lynch & Co memproyeksikan permintaan atas komoditas pertanian dan logam mulia masih tinggi setahun ini khususnya dari negara emerging market. Kurs dolar AS yang semakin melemah dan menurunnya harga saham di AS memicu para investor mencari alternatif investasi.

"Tahun ini akan menjadi tahun positif bagi pertumbuhan keuntungan dari sektor komoditas. Permintaan yang masih tinggi dari emerging market, produksi yang terbatas, dan persediaan yang berkurang menjadi faktor pemicu tingginya harga," kata Francisco Blanch, head of global commodities research Merrill Lynch seperti dikutip Bloomberg.

Sepanjang 2008 pasokan dan permintaan produk pertanian semakin ketat, seperti untuk produk-produk gas alam, kacang kedelai, minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO), nikel, emas, dan perak. Persediaan minyak dan produk pertanian global terus menunjukkan penurunan karena permintaan yang tinggi sehingga memicu lonjakan harga.

Blanch menambahkan harga kedelai, gandum, dan CPO setahun ini terus memperbaharui rekor tertingginya dipicu meningkatnya permintaan dari India dan China.

Pasokan kedelai ke AS terus menurun setelah petani mengurangi tanamannya dalam empat tahun ini menjadi 2,6 miliar bushel. Persediaan kedelai AS akan anjlok 160 juta bushel dari 574 juta tahun ini.

Harga kontrak berjangka kedelai mencapai rekor US$13,98 per bushel pada perdagangan akhir pekan. Setahun ini harga sudah melonjak 86%.

Harga perak akan bertengger dikisaran US$14,46 per ounce pada 2008, dibandingkan dengan harga rata-rata pada 2007 sebesar US$13,39. (berliana.elisabeth@bisnis.co.id)

Oleh Berliana Elisabeth S.
Bisnis Indonesia

© Copyright 2001 Bisnis Indonesia. All rights reserved. Reproduction in whole or in part without permission is prohibited.

Bisnis 18-Feb-08: Pemerintah jaga harga HPP kedelai minimum Rp5.500 per kg


Agribisnis
Senin, 18/02/2008
Pemerintah jaga harga HPP kedelai minimum Rp5.500 per kg
JAKARTA: Pemerintah akan menjaga harga kedelai di tingkat perajin tahu dan tempe stabil pada batas harga minimum Rp5.500 per kg dan maksimal Rp6.500 per kg melalui pengadaan kedelai lokal oleh Perum Bulog.

"Harga di pasar kita harapkan tidak lebih dari Rp6.000-Rp6.500 per kg sampai di tingkat produsen tahu tempe. Itu bagi petani sudah untung, mungkin konsumen bilang mahal tetapi tempe dan tahu kandungan gizinya lebih tingggi daripada nasi," kata Dirjen Tanaman Pangan, Departemen Pertanian, Sutarto Alimoeso, akhir pekan lalu.

Dalam rangka itu, Deptan bersama Perum Bulog dan Bank Artha Graha Internasional akan bekerja sama untuk mendorong petani menanam kedelai sehingga produksi nasional meningkat hingga mencapai status swasembada.

Kerja sama itu akan ditindaklanjuti dengan penandatanganan nota kesepahaman dalam waktu dekat itu.

Nota itu isinya berupa program jaminan pembelian kedelai petani dengan harga yang ditetapkan pemerintah (HPP/harga pembelian pemerintah) dan Bulog sebagai penyalur kebutuhan perajin tahu dan tempe melalui Inkopti (Induk Koperasi Tahu Tempe) dan Primkopti (Primer Koprasi Tahu Tempe Indonesia).

Kebutuhan dan produksi kedelai (juta ton)
Kebutuhan2
Produktivitas1,3
Pasokan impor1,2
Pasokan dalam negeri0,6
Sumber: Ditjen Tanaman Pangan, 2008

"Kita harapkan minimum [HPP] bisa Rp5.500 per kg. Ini sesuai dengan desakan rakyat melalui DPR. Bulog diminta menjadi penyangga untuk komoditas kedelai," ujarnya.

Dengan HPP sebesar itu, lanjutnya, harga kedelai di tingkat pengrajin tahu dan tempe dapat ditahan antara Rp6.000 dan Rp6.500 per kg. Deptan nantinya akan membina petani untuk mengelola lahan kedelai seluas minimal 100.000-200.000 hektare yang diperkirakan bisa memproduksi sekitar 300.000 ton per tahun.

Menurut dia, butir utama yang akan dimasukkan dalam MoU antara Deptan dan Perum Bulog adalah Ditjen Tanaman Pangan bersama dinas pertanian serta pemprov melakukan pembinaan pada petani.

Produksi naik

Selanjutnya hasil produksi akan dibeli Bulog dengan patokan HPP dengan menggunakan fasilitas anggaran dari perbankan. Menurut dia, peran Bulog sebagai offtaker yang membeli kedelai sesuai HPP diharapkan bisa meningkatkan produksi kedelai nasional. Jaminan harga akan menyokong upaya pemerintah menuju kemandirian produksi kedelai, hingga mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri.

Produksi kedelai dalam negeri tahun lalu baru mencapai sekitar 600.000 ton, jauh lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan masyarakat dalam setahun yang mencapai 1,8 juta hingga dua juta ton. "Kita harapkan dengan itu petani bergairah (menanam kedelai) dan mendapat keuntungannya wajar," katanya.

Selama ini, kebutuhan kedelai yang sebesar 1,8 juta ton hingga 2 juta ton per tahun lebih banyak dipasok dari impor mengingat produksi dalam negeri hanya 600.000 ton. (k34) (linda.silitonga@bisnis.co.id/martin.sihombing@bisnis.co.id)

Oleh Linda T. Silitonga & Martin Sihombing
Bisnis Indonesia

© Copyright 2001 Bisnis Indonesia. All rights reserved. Reproduction in whole or in part without permission is prohibited.