24 January 2008

Kompas 23-Jan-08: Peran Bulog Harus Permanen

Peran Bulog Harus Permanen
KOMPAS/LUCKY PRANSISKA / Kompas Images
Menko Perekonomian Boediono (kiri), Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, (tengah) dan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyampaikan hasil rapat koordinasi bidang ekonomi di Gedung Departemen Keuangan, Jakarta, Selasa (22/1). Rakor pertama tahun 2008 antara lain menyusun konsep fokus program ekonomi 2008 dan 2009.
Rabu, 23 januari 2008 | 04:19 WIB

Jakarta, Kompas -Pengendalian harga kedelai bergantung pada penyediaan pasokan, pengelolaan stok, dan jaringan distribusi. Karena itu, apabila pemerintah memang serius mau menjaga stabilitas harga kedelai dalam negeri, pelibatan Perum Bulog sebagai stabilisator harga jangan bersifat insidental, tetapi berkelanjutan.

Penegasan itu disampaikan Dirut Perum Bulog Mustafa Abubakar, Selasa (22/1), dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR.

Selain dengan Bulog, raker juga melibatkan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Pertanian Anton Apriyantono, serta Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Suryadharma Ali.

Menurut Mustafa, penugasan berkelanjutan akan memberikan keleluasaan bagi Bulog untuk mengelola stok dan membangun jaringan distribusi.

Secara nyata Bulog juga bisa langsung terjun ke lapangan untuk membeli kedelai dari petani sehingga ada jaminan pasar dalam bentuk jaminan harga dan jaminan pembelian barang.

”Dengan begitu, petani lebih bersemangat menanam kedelai dan produksi akan meningkat karena ada kepastian bagi petani dalam menjalankan usaha taninya,” jelasnya.

Bagaimanapun, lanjut Mustafa, stabilisasi harga kedelai mendesak dilakukan. Selain untuk menjaga semangat petani berproduksi juga untuk menahan laju peningkatan harga kedelai agar tidak liar. ”Fluktuasi harga kedelai menyulitkan perajin tahu- tempe dalam menjalankan usahanya karena tidak ada kepastian harga,” katanya.

Para perajin makanan berbasis kedelai saat ini kelimpungan dalam menentukan harga produknya. Kalwi, perajin tempe di Kebon Bawang, Jakarta Utara, mengatakan, setiap hari kedelai yang diolah menjadi tempe mencapai 2 kuintal.

Kini jumlah kedelai yang diolah terus menurun. ”Mau bagaimana lagi, harga kedelai cenderung naik setiap hari. Hari ini bisa membeli Rp 7.300 per kilogram, sorenya harganya naik menjadi Rp 7.500 per kilogram,” ujar Kalwi.

Mustafa menjelaskan, pascaderegulasi tata niaga kedelai yang ditandai dengan ”pemeretelan” peran Bulog, tata niaga kedelai tidak pernah berpihak kepada petani.

Tekanan belum berakhir

Hal ini berawal dari penandatanganan letter of intent (LoI) antara Dana Moneter Internasional (IMF) dan Pemerintah Indonesia pada 31 Oktober 1997.

Ketika itu IMF mendesak Indonesia menghapus monopoli impor, pemasaran, dan pengendalian harga komoditas pertanian termasuk kedelai. Pengecualian hanya berlaku untuk beras, gula pasir, dan cengkeh.

Pada 15 Januari 1998, IMF kembali melakukan ”serangan”. Peran Bulog kembali dikebiri. Monopoli impor, pemasaran, dan pengendalian harga oleh Bulog hanya berlaku pada komoditas beras saja.

Mengacu pada LoI itu, pemerintah pun menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 1998 yang memberi tugas Bulog untuk mengendalikan harga sebatas beras.

Tata niaga makin merugikan petani ketika LoI pada 24 Juni 1998 dalam butir 16 menyebutkan pemerintah harus membebaskan tata niaga pangan termasuk kedelai dengan tarif bea masuk (BM) 0 persen, padahal sebelumnya tarif BM impor 20 persen (1997). Sejak saat itu, Bulog dan swasta mendapat peran sama dalam importasi dan pemasaran.

Tekanan belum berakhir. Deregulasi tata niaga kedelai itu melahirkan importir-importir kedelai besar. Berbagai kemudahan juga diberikan kepada importir, seperti dalam mendatangkan kedelai melalui sistem pembiayaan penjaminan, collateral management agreement (CMA).

Mekanismenya importir menandatangani perjanjian jual-beli komoditas melalui bank. Selanjutnya importir membayar uang muka yang disepakati sekitar 10-20 persen. Kemudian bank menunjuk penyurvei di gudang penerima melalui rekomendasi pemasok dari luar negeri.

Pemasok di luar negeri akan mengirim barang sebanyak volume yang diperjualbelikan dan dikirim ke gudang importir. Bank lalu membayar 100 persen kepada penyalur dengan komoditas itu sebagai jaminan.

Importir menjual barang secara bertahap sesuai permintaan. Jumlah yang dibayar ke bank sesuai volume kedelai yang ditebus. Harga jual ditetapkan mengikuti harga Chicago Board of Trade. Sementara itu, Mari Elka Pangestu mengatakan, pemerintah tak bisa membuat harga komoditas pangan domestik jauh lebih rendah dari harga internasional.
(MAS/DAY/OSA/EKI/MDN/MHF/ DYA/YOP/HLN/YNT/ELD/ MKN/AHA/THT/CHE)

http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.01.23.04192114&channel=2&mn=3&idx=3

Kompas 23-Jan-08: Abdul Muin, Kesetiaan pada Kedelai

Abdul Muin, Kesetiaan pada Kedelai
Kompas/Adhitya Ramadhan / Kompas Images
Rabu, 23 januari 2008 | 04:54 WIB

Adhitya Ramadhan

Tak pernah terlintas sedikit pun di benak Abdul Muin bahwa negeri yang subur ini bakal didera krisis kedelai. Meski selama ini pemerintah tak pernah ”ribut” soal kedelai, sejak lama Abdul Muin dan petani di Desa Ciwarak, Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, selalu menanam kedelai.

Krisis kedelai belakangan ini pun memengaruhi kehidupan Muin, panggilannya. Ia kian miris mendengar impor kedelai Indonesia mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun, sedangkan produksi kedelai nasional hanya sekitar 800.000 ton per tahun. ”Ternyata kebutuhan kedelai kita itu dipasok dari luar negeri,” ucapnya.

Muin adalah Ketua Kelompok Tani Mandala Muda di Desa Ciwarak yang sudah turun-temurun menanam kedelai. Para petani dalam kelompok ini sudah terbiasa menjadikan kedelai sebagai tanaman penyelang budidaya padi. Pola tanam yang mereka kembangkan dalam setahun adalah padi-padi-kedelai.

Muin dan petani lain di Ciwarak biasanya menanam kedelai di lahan sawah mereka paling lambat dua hari setelah padi dipanen. Lahan sawah sehabis panen yang masih menyimpan cukup air itu dirasakan cocok untuk budidaya kedelai. Sebab, pada awal tanam, kedelai memerlukan banyak air. Selain itu, lahan pun tak perlu diolah lebih dulu. Ini berarti menghemat biaya pengolahan tanah.

Petani di desa itu biasa menanam kedelai sekitar bulan Juni. Muin bercerita, untuk lahan seluas satu hektar diperlukan sekitar 40 kilogram (kg) benih kedelai seharga Rp 5.000 per kg. Setelah 80 hari sampai 90 hari, dari lahan tersebut bisa dihasilkan sekitar dua ton kedelai.

Oleh petani setempat, kedelai hasil panen kemudian dijual kepada tengkulak dengan harga sekitar Rp 3.500 per kg.

Alhasil dari bertanam kedelai, petani setidaknya bisa mengantongi penghasilan kotor sekitar Rp 7 juta. ”Itu penghasilan kotor kami karena masih ada biaya untuk membeli pupuk,” ujar Naim sambil menyebutkan harga jual kedelai kini naik menjadi Rp 4.000 per kg.

Prospek budidaya kedelai yang menguntungkan itulah yang membuat Muin dan kelompok taninya tetap bertahan menanam kedelai. Peluang usaha dari budidaya kedelai ini pun terus disosialisasikan Muin kepada warga desa lain di sekitar Ciwarak.

”Dulu, waktu saya masih digendong ibu ke sawah, sudah banyak warga yang menanam kedelai. Saat itu ada sekitar lima hektar lahan yang ditanami kedelai. Tahun 2003 ketika ada program intensifikasi khusus budidaya kedelai, areal tanam kedelai mencapai 25 hektar dengan produktivitas 1,5 ton per hektar. Sekarang luasnya sudah bertambah menjadi 80 hektar dengan produktivitas dua ton per hektar,” tutur pria kelahiran tahun 1938 itu.

Hasil sosialisasi

Pertambahan areal tanam kedelai di kawasan itu tak bisa dilepaskan dari usaha sosialisasi selama puluhan tahun yang dilakukan Muin dan kelompok taninya. Proses perluasan lahan kedelai tidaklah gampang.

Berbagai upaya sosialisasi tanam kedelai dilakukan Muin dengan rekan-rekannya dalam berbagai kesempatan, mulai dari pengajian rutin di masjid, pertemuan di balai desa, hingga acara kumpulan warga yang bersifat informal.

Begitu pula setiap kali dia diundang untuk ikut pelatihan menanam kedelai oleh pemerintah, ia merasa punya tanggung jawab moral membagi ilmu tanam kedelai tersebut dengan sesama petani. Seusai pelatihan, Muin yang lulusan sekolah dasar itu membagi ilmu yang diperolehnya dengan cara yang mudah bagi dia dan bisa diterima para petani lain.

”Supaya masyarakat tertarik menanam kedelai, tokoh masyarakat seperti kepala desa dan ulama juga ikut diajak menanam kedelai,” ceritanya.

Meski berbagai cara dilakukan Muin untuk mengajak petani lain mau bertanam kedelai, sering kali pula hasilnya mengecewakan. Kakek tiga cucu itu mengaku, hambatan terberat baginya adalah mengubah kebiasaan petani setempat yang hanya tahu bertanam padi saja.

”Wah, banyak hambatannya (sosialisasi tanam kedelai). Pernah ada petani marah-marah sambil membawa golok. Dia teriak, ’Lha, kok anak saya tidak dikasih makan beras. Apa anak saya mau dikasih makan kedelai?’,” kata Muin yang tahun ini berusia 70 tahun.

Meski pertambahan luas areal tanam kedelai relatif lambat, sosialisasi tanam kedelai yang dilakukan Muin tetap membuahkan hasil. ”Kalau dulu cuma petani di dua desa yang menanam kedelai, sekarang ini, kebiasaan itu sudah menular di empat desa lain yang bertetangga dengan Ciwarak,” lanjutnya.

Peringkat pertama

Kesetiaan pria yang mengaku pernah bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Amir Mahmud, salah seorang menteri pada era Orde Baru, itu pada kedelai mendapatkan apresiasi dari pemerintah. Tahun 2003 ketika ada Program Intensifikasi Khusus (Insus) Kedelai, Kelompok Mandala Muda berhasil menempati peringkat pertama kelompok tani kedelai berprestasi tingkat Jawa Barat.

Upaya perluasan areal tanam kedelai Muin dan kelompok taninya juga mendapat penghargaan ketahanan pangan dari pemerintah pusat. Mandala Muda menempati peringkat ketiga nasional untuk kelompok tani kedelai. Penghargaan itu, kata Muin, diserahkan sendiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 17 November 2007.

Meski bisa dibilang ”sukses”, Muin mengaku hingga kini kelompoknya belum mampu menampung dan membantu pemasaran hasil kedelai dari petani. Dia tetap berharap nantinya kelompok tersebut bisa menampung hasil panen kedelai petani yang kebanyakan adalah anggota koperasi.

Muin optimistis, masa depan kedelai akan makin cerah. Di sisi lain, bila petani hanya menanam benih padi saja, hasilnya tak optimal. Ia memberi gambaran, untuk satu hektar sawah diperlukan 40 kg benih padi. Petani biasanya tak membeli benih sebab mereka sudah menyimpan dari hasil panen sebelumnya. Dengan masa tanam padi sekitar 3-4 bulan, petani dapat memanen sekitar 1,2 ton. Dengan harga satu kg gabah itu sekitar Rp 3.200, berarti setiap panen petani hanya mendapat sekitar Rp 3,84 juta.

Itu pun masih penghasilan kotor karena petani harus mengeluarkan uang untuk mem- beli pupuk dan membayar upah pekerja yang mengolah sawah sekitar Rp 750.000 per hektar. ”Ini pun belum termasuk biaya sewa traktor yang sampai jutaan (rupiah) untuk lahan seluas satu hektar,” katanya.

Muin boleh bangga, ketika banyak orang krisis kedelai, sebanyak 300 petani di Ciwarak sudah ”mengantisipasi” dengan menanam kedelai di lahan seluas 80 hektar.

http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.01.23.04544334&channel=2&mn=13&idx=13

23 January 2008

Antara 22-Jan-08: Pemerintah Percepat Swasembada Kedelai Jadi 2011

PEMERINTAH PERCEPAT SWASEMBADA KEDELAI JADI 2011
Jakarta, 22/1 (ANTARA) - Pemerintah akan mempercepat pencapaian swasembada kedelai dari yang sebelumnya ditargetkan pada 2015 menjadi 2011 dengan produksi dalam negeri sebanyak 2 juta ton. 

Menteri Pertanian Anton Apriyantono di Jakarta, Selasa menyatakan, kondisi harga kedelai yang bagus saat ini merupakan saat yang tepat untuk meningkatkan produksi dalam negeri. 

"Karena harga yang bagus maka swasembada kedelai akan dipercepat menjadi 2010 dari rencana 2015," katanya disela Rapat Dengar Pendapat antara Komisi VI DPR dengan Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian, Menteri Perdag angan, Menteri Negara Koperasi dan UKM, Dirut Perum Bulog serta Dirut PT Pertani. 

Anton menyatakan, untuk mencapai target produksi kedelai 2 juta ton pada 2011 tersebut salah satunya dilakukan dengan perluasan areal tanam hingga 1,2 juta hektar serat meningkatkan produktivitas dari 1,3 ton per hektar menjadi 2 ton per hektar. 

Berdasarkan catatan Departemen Pertanian, pada tahun 1992 produksi kedelai nasional pernah mencapai 1,8 juta ton namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama kemudian semakin menurun dari tahun ke tahun. 

Pada tahun 2000 produksi kedelai menjadi 1,01 juta ton dengan luas panen 824.484 ribu ha serta produktivitas 1,1 ton/ha namun empat tahun kemudian turun menjadi 723.483 ton serta luas panen 565.155 ha dan produktivitas 1,2 ton/ha pada 2004. 

Badan Pusat Statistik mencatat, produksi kedelai nasional pada 2007 semakin anjlok menjadi 608.263 ton karena luas panen juga menurun menjadi 464.427 ha meskipun produktivitas tanaman meningkat menjadi 1,3 ton/ha. 

Jika kebutuhan kedelai dalam negeri sekitar 1,8 hingga 2 juta ton per tahun maka untuk memenuhi konsumsi kedelai nasional dilakukan dengan mengimpor rata-rata 1,2 juta ton per tahun. 

Mentan mengatakan, penurunan produksi kedelai dalam negeri disebabkan usaha budidaya komoditas tanaman tersebut tidak menguntungkan secara ekonomis karena harga kedelai relatif murah sehingga petani enggan menanamnya. 

Sementara itu, tambahnya, kedelai impor yang mendapatkan subsidi dari pemerintahnya bisa dipasarkan dengan harga murah sehingga menjadikan daya saing produksi petani semakin lemah. 

"Oleh karena itu untuk mendorong petani kembali menanam kedelai pemerintah akan memberikan jaminan harga yang stabil pada tingkat Rp5500-Rp6000/kg," katanya. 

Selain itu, tambahnya, juga memberikan jaminan pasar misalnya melalui program kemitraan Bulog dengan petani sehingga hasil panen mereka ada kepastian akan terbeli. 

Di tingkat h ulu akan melibatkan BUMN seperti PT Sang Hyang Seri dan PT Pertani untuk menyediakan benih unggul serta PT Pusri, Kujang, Petrokimia Gresik dan Iskandar Muda dalam penyediaan pupuk baik kimia maupun organik. 

Dengan percepatan swasembada kedelai diperkirakan pada 2011 impor kedelai hanya 241.594 ton atau 9,8 persen dari kebutuhan 2,46 juta jika produksi dalam negeri sebanyak 2,22 juta ton terpenuhi. 

(T.S025/B/M012/M012) 22-01-2008 19:20:26 NNNN

22 January 2008

Kompas 22-Jan-08: Rezeki Para Peternak Terbang Bersama Harga Pakan

Rezeki Para Peternak Terbang Bersama Harga Pakan
Selasa, 22 januari 2008 | 04:12 WIB

Agustinus Handoko

Nana Sumarna (35) duduk tak bersemangat di teras rumahnya. Sudah sebulan terakhir, Nana tak memiliki aktivitas rutin lagi. Kalau ada yang membutuhkan tenaganya, dia baru keluar rumah. ”Sekarang jadi buruh serabutan lagi,” ujarnya singkat.

Nana memang harus kembali ke kehidupan lamanya menjadi buruh serabutan paska panen terakhir ayam kampung di kadangnya di Desa Tenjolaya, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat sebulan lalu. ”Saya sebetulnya sudah sangat menggantungkan hidup dari beternak ayam kampung ini. Dampaknya bagi perekonomian keluarga sangat terasa selama saya beternak ayam kampung.”

Namun usaha ternak ayam kampung kecil-kecilan yang dirintis Nana setahun lalu harus berhenti di tengah jalan. ”Harga pakan sudah tak terjangkau lagi. Maka, ya sudahlah daripada saya rugi uang dan tenaga, lebih baik berhenti,” kata Nana. Setelah panen terakhir 300 ekor ayam kampungya menjelang Natal 2007 lalu, Nana dilanda keragu-raguan apakah akan kembali mengisi kandangnya dengan ayam umur sehari (day old chicken/DOC) atau tidak.

”Saat itu, harga pakan dan DOC sudah naik terus. Saya memutuskan untuk menunggu sampai harganya turun lagi. Namun, ternyata sampai sebulan tidak turun, dan bahkan masih terus naik,” kata Nana.

Nana adalah satu di antara 150 peternak ayam kampung rakyat di Kabupaten Sukabumi yang terpukul oleh kenaikan harga pakan buatan pabrik belakangan ini. Di toko pakan ternak eceran, harga pakan pabrik sudah sampai Rp 4.500 per kilogram pada Senin (21/1). Padahal, enam bulan lalu, harga pakan pabrik masih pada kisaran Rp 3.000. Sementara itu, harga DOC yang semula hanya Rp 3.750 naik menjadi Rp 4.500 per ekor.

Para peternak yang akan beralih ke pakan buatan sendiri pun terbentur kenaikan harga bahan bakunya, kedelai dan jagung. Harga kedelai lokal naik dari Rp 3.000 menjadi Rp 6.300, dan jagung naik dari Rp 2.000 menjadi Rp 2.700.

Ipang Supandi (27), peternak lainnya di Desa Tenjolaya juga sudah menutup usahanya, awal Januari lalu setelah panen 150-an ekor. Kandang di lahan milik orang lain itu pun dibiarkan kosong tanpa bibit ayam. ”Saya tertolong karena punya peternakan kecil-kecilan walaupun saya dirikan di lahan milik orang lain.”

Menurutnya, para peternak benar-benar hanya akan bisa hidup kalau pemerintah turun tangan. Ipang berharap, ada campur tangan yang nyata dari pemerintah untuk mengembalikan harga pakan yang kini sudah tak terjangkau lagi.

Ipang mengatakan, para peternak ayam kampung rakyat di Kabupaten Sukabumi sebetulnya sudah menemukan ritme yang pas dalam menjalankan usaha ternaknya. ”Jiwa wirausaha kami sudah terbentuk. Namun, kalau sudah berhadapan dengan persoalan harga pakan, ilmu yang kami pelajari dari pengalaman ini sudah tak berarti lagi.”

Beternak ayam kampung dalam skala kecil, ternyata sudah cukup bagi para peternaknya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka saat harga pakan belum naik. ”Dengan memelihara 300 ekor misalnya, keuntungannya sudah cukup untuk makan sehari-hari, uang jajan dan biaya sekolah anak,” ujar Ipang. Sebelum kenaikan harga pakan dan DOC, peternak masih bisa mengantongi untung Rp 4.700 per kilogram ayam kampung. Namun, kini hanya tinggal Rp 2.200. Jika dihitung dengan waktu pemeliharaan dan tenaga yang dikeluarkan para peternak, keuntungan itu sudah tak memadai lagi.

Wakil Ketua Kelompok Peternak Rakyat Ayam Kampung Sukabumi, Mahmud Daood mengatakan, kenaikan harga pakan adalah pukulan telak yang kedua kalinya bagi peternak. Sebelumnya, peternakan ayam kampung diguncang oleh flu burung. ”Ayam kampung selalu dituding sebagai penyebab flu burung. Padahal, peternakan milik rakyat ini justru menjadi korban penyebaran flu burung dari peternak ayam ras yang memiliki unggas puluhan ribu hingga ratusan ribu ekor,” kata Mahmud.

Perlahan-lahan, peternak ayam kampung rakyat bangkit dari keterpurukan akibat flu burung ini. Pemeliharaan yang baik dengan memerhatikan kesehatan lingkungan kandang dan pemberian vaksin secara periodik dilakukan oleh para peternak sehingga unggas-unggas terhindar dari flu burung.

Dalam dua tahun terakhir lebih, Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza bekerja sama dengan para peternak rakyat di Sukabumi untuk mewujudkan peternakan rakyat yang sehat. Hasilnya memang signifikan. Pola peternakan yang sehat menjadi mindset para peternak ayam kampung rakyat.

Mahmud mengatakan, kenaikan harga pakan menimbulkan efek domino di kalangan peternak. Selain peternak, para pekerja juga harus kehilangan pekerjaan mereka di sini.

Padahal, dalam kurun waktu pemeliharaan 70 hari, untuk memperoleh bobot ayam kampung satu kilogram, seorang pekerja bisa mendapat upah Rp 800.000-Rp 900.000.

Sektor peternakan rakyat ini sangat menarik bagi buruh-buruh serabutan seperti pekerja bangunan yang tidak selalu rutin dibutuhkan tenaganya.

Kompas 22-Jan-08: Di Mana-mana Harga Bahan Pokok Melambung

Di Mana-mana Harga Bahan Pokok Melambung
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO / Kompas Images
Jaka (20) menata dagangan minyak goreng curah di salah satu kios sembako di Pasar Ciroyo, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (21/1) malam. Harga minyak goreng curah di kios ini mengalami kenaikan dari harga Rp 8000 per kilogram menjadi Rp 10.400 per kilogram.
Selasa, 22 januari 2008 | 04:12 WIB

Jakarta, Kompas  - Dalam sebulan terakhir harga komoditas bahan kebutuhan pokok di sejumlah provinsi terus melambung. Kenaikan harga terutama terjadi pada telur, minyak goreng, dan terigu. Pemerintah provinsi tidak bisa berbuat banyak karena kenaikan harga menyangkut kebijakan nasional.

Di Pasar Kranggan dan Pasar Beringharjo, Yogyakarta, tepung terigu yang semula Rp 6.000 per kilogram (kg) kini mencapai Rp 6.750 per kg. Harga telur pun naik Rp 1.000 dari harga sebelumnya Rp 9.500 per kg. Untuk minyak goreng curah, harga sebelumnya yang Rp 162.000 per kaleng ukuran 17 kg kini menjadi Rp 167.000.

Jika terigu dibanderol dengan harga Rp 6.300 per kg, di Beringharjo kini mencapai Rp 7.000. Kenaikan harga terigu disusul dengan naiknya harga bahan pangan dengan berbahan dasar terigu seperti mi instan. Jika satu dus sebelumnya dihargai Rp 30.000, sekarang dijual Rp 40.000. Demikian juga dengan kuetiau saat ini harganya Rp 3.000 per pak atau naik Rp 500 dari Rp 2.500.

Menurut Yadi (45), penjual bahan kebutuhan pokok di Pasar Beringharjo, kenaikan harga sudah berlangsung sejak awal Januari. Meski harga naik, para pedagang mengaku stok sembako mereka memadai. "Harga cenderung naik terus tiap pekan. Kami tidak semena-mena menaikkan harga karena harga kulakan memang naik," kata Ndaruwati dari Toko Lestari, agen penyalur terigu dan minyak goreng di Bantul.

Sangat terbebani

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalsel Subarjo di Banjarmasin, Senin (21/1), menyatakan, masyarakat sangat terbebani. "Saya sudah menyampaikan permintaan ini beberapa hari lalu kepada pejabat terkait di departemen perdagangan," katanya tentang harga minyak goreng curah eceran yang melonjak Rp 11.500-Rp 12.000 per liter dari harga sebelumnya Rp 11.000.

Subarjo meminta agar pemerintah menyediakan minyak goreng bersubsidi minimal 150.000 liter, sebagaimana disalurkan pada akhir 2007. Saat itu bantuan ditujukan untuk 75.000 keluarga miskin yang masing-masing menerima 2 liter dengan subsidi Rp 2.500.

"Sekarang penyaluran minyak bersubsidi itu jadi sangat diperlukan karena hampir semua harga barang kebutuhan sehari-hari naik," kata Subarjo.

Beberapa pedagang gorengan di Banjarmasin mengaku, selain dampak kenaikan harga bahan pokok, keuntungan mereka juga turun karena kesulitan mendapatkan minyak tanah yang harganya mencapai Rp 4.000-Rp 5.000 per liter.

Berbagai provinsi

Kenaikan harga bahan kebutuhan pokok nyaris serentak terjadi di Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, Banten, dan DKI Jakarta.

Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil, Menengah, dan Perindustrian Perdagangan Kota Bandung Ernawan Natasaputra mengatakan, kenaikan harga minyak goreng yang tertinggi, disusul kenaikan harga terigu dan kedelai, turut memusingkan pedagang.

Menurut Ny Ani (39), pedagang di Pasar Kosambi, Bandung, jika harga terus naik, pedagang tidak akan bisa memenuhi pasokan barang. Dengan pembeli yang makin turun, kenaikan harga jadi beban berat pedagang. "Jumlah pembeli turun 50 persen, bahkan kerugian saya hingga 100 persen. Pedagang banyak yang nombok karena modal dan penghasilan tak seimbang," kata Ny Ani.

Ia menambahkan, harga minyak goreng bukan kemasan naik jadi Rp 10.500 dari Rp 8.000 per kg, sedangkan minyak goreng kemasan kelas satu Rp 12.500 per liter, naik dari sebelumnya Rp 10.000 per liter. Minyak goreng kemasan kelas dua naik dari Rp 9.000 jadi Rp 11.500 per liter.

Hal yang sama dikatakan Ny Anda (50), pedagang di Pasar Cihaurgeulis, Bandung. Ia terpaksa menurunkan permintaan barang kepada agen karena harga-harga semakin tak terjangkau lagi dengan modal yang ada. "Bila harga makin tinggi, lebih baik berhenti sementara," ujarnya.

Di Pasar Wonokromo, Surabaya, harga minyak goreng curah dijual Rp 10.000-Rp 10.500 per kg, naik dari harga dua minggu lalu Rp 8.500. Harga gula pasir Rp 6.000-Rp 6.500 per kg, atau naik Rp 200 dari harga seminggu sebelumnya.

Ali (38), penjual kelontong di Pasar Wonokromo, mengatakan, kenaikan harga bukan karena pasokan berkurang, melainkan karena permainan distributor. Harga ayam potong empat hari lalu masih Rp 12.500-Rp 13.000 per kg, saat ini dijual Rp 15.000.

Kenaikan tertinggi dicatat oleh harga cabai merah besar yang mencapai Rp 12.000 per kg dan cabai merah kecil Rp 20.000 per kg. Harga itu naik 30 persen dari harga seminggu sebelumnya. Adapun bawang merah dari Rp 8.000 per kg naik jadi Rp 10.000 per kg dalam dua hari terakhir.

Seger (48), pedagang sayuran di Pasar Wonokromo, menambahkan, kenaikan harga cabai dan bawang merah disebabkan oleh kegagalan panen dan panen tak serentak di sentra produksi di Probolinggo dan Kediri.

Hingga Rp 17.000 per kg

Di Kabupaten dan Kota Serang, Banten, kenaikan harga minyak goreng curah hingga di atas Rp 17.000 per kg. Para pemilik warung terpaksa menaikkan harga karena takut tidak bisa lagi kulakan minyak goreng.

Kasmin, pemilik warung kelontong di Desa Margaluyu, Kasemen, Kota Serang, menjual minyak goreng curah bungkusan berisi seperempat liter seharga Rp 3.800 per bungkus. Sejumlah warung di Ciomas, Serang, menjual minyak goreng Rp 17.500-Rp 18.000 per kg. Di Pasar Induk Rau, Serang, pedagang menjual minyak goreng Rp 9.600-Rp 9.700 per liter, atau setara dengan Rp 12.000-Rp 12.125 per kg. Padahal, harga di tingkat distributor masih Rp 9.500-Rp 9.600 per kg.

Di Sumatera Utara dan Sumatera Barat kenaikan harga terjadi hampir di semua jenis bahan makanan yang berkomponen bahan impor, seperti minyak goreng, tepung terigu, dan mentega.

Di Pasar Ulak Karang, Padang, harga eceran minyak goreng Rp 10.000 per kilogram, bahkan di Medan dan Bandar Lampung Rp 10.500. "Setiap kali mengambil minyak goreng dari agen, harganya pasti naik. Kenaikan sekitar Rp 100 per kg dan tak pernah turun," kata Linda, pedagang di Pasar Ulak Karang. (A06/A02/A11/PRA/ENY/MHF/AYS/BEN/SEM/KOR/FER/WSI/HLN/ITA/ART/CHE/FUL/BEE/A13/POL/NTA/ COK/ARN/RTS/MAS/DAY/HAM)

Kompas 22-Jan-08: Pengamanan Pangan

Pengamanan Pangan
KOMPAS/LUCKY PRANSISKA / Kompas Images
Buruh pikul mengangkut beras dari gudang Bulog Divre DKI Jakarta yang menyimpan stok 150.000 ton, untuk distribusikan ke sejumlah wilayah di Jakarta, Senin (21/1). Tahun 2008 permintaan beras untuk rakyat miskin (raskin) di Jakarta meningkat 100 ton menjadi 1.600 ton per bulan. Selain itu harga raskin juga naik dari Rp 1.000 per kilogam menjadi Rp 1.600 per kilogram.
Selasa, 22 januari 2008 | 04:28 WIB

Jakarta, Kompas - Pemerintah memerintahkan Perusahaan Umum Bulog untuk mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu diminta mengimpor kedelai dalam jumlah besar untuk mengamankan pasokan domestik. Pemerintah juga memperhitungkan kemungkinan pemberian subsidi kedelai sebesar Rp 200 miliar.

”Ini merupakan hasil pembahasan bersama antara Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian, Departemen Keuangan, Kementerian Negara Koperasi dan UKM, serta Kantor Menko Perekonomian,” ujar Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kehutanan Bayu Krisnamukti dalam konferensi pers mengenai kebijakan pengamanan pangan yang telah disusun pemerintah untuk jangka pendek, menengah, hingga panjang, Senin (21/1) di Jakarta.

Menurut Bayu, Bulog memerlukan waktu sedikitnya enam bulan untuk mempersiapkan diri. ”Bagaimanapun ini harus dipersiapkan karena pasokan komoditas pangan masih akan tetap tertekan akibat kenaikan harga dalam empat hingga enam bulan ke depan. Harga komoditas pangan diperkirakan akan terus naik hingga bulan Juni 2008 dan setelah itu akan bergerak landai,” ujar Bayu.

Atas dasar itu, pemerintah mengarahkan seluruh perhatiannya pada tiga hal. Pertama, pemulihan daya beli dan konsumsi masyarakat.

Kedua, memperkuat usaha mikro dan kecil, terutama pengusaha yang menggunakan bahan baku berupa komoditas makanan yang tengah meningkat harganya, yakni kedelai dan terigu.

Ketiga, mengendalikan inflasi karena sembilan dari 20 komoditas yang berdampak besar terhadap inflasi adalah makanan.

Kesembilan produk itu adalah beras, terigu, kedelai, jagung, susu, gula, minyak goreng, daging, dan bumbu-bumbuan, terutama bawang merah dan cabai.

Untuk merealisasikan ketiga tujuan itu, pemerintah telah merancang kerangka kebijakan pengamanan pangan yang belaku bagi semua jenis komoditas makanan.

Struktur produksi

Kebijakan itu dibagi atas dua bagian, yakni kebijakan segera atau jangka pendek dan kebijakan menengah serta jangka panjang.

Kebijakan jangka pendek dilakukan dengan tiga langkah. Pertama, mengintervensi proses pengelolaan, perdagangan, dan produksi komoditas makanan.

Langkah itu sebagian sudah dilakukan, antara lain pembebasan bea masuk impor kedelai dari 10 persen menjadi nol persen. Kebijakan ini hanya sementara mengikuti kondisi harga di pasar dan tingkat petani.

Kedua, operasi pasar dengan menggunakan mekanisme gabungan antara pemerintah dan swasta atau swasta saja melalui program tanggung jawab sosialnya.

Ketiga, memberikan dukungan langsung kepada masyarakat yang terkena dampak langsung fluktuasi harga komoditas makanan.

Adapun untuk jangka panjang, pemerintah menetapkan dua langkah penting. Pertama, menyehatkan struktur produksi, antara lain dengan memberikan subsidi hingga pengembangan infrastruktur.

Kedua, menyeimbangkan struktur pasar. Ini ditetapkan karena dalam kasus kedelai hanya ada empat hingga lima importir, karena untuk mencapai efisiensi biaya perlu dana besar.

Itu disebabkan unit terkecil dalam penawaran lelang kedelai, minimal 50.000 ton, sehingga hanya sedikit pengusaha yang sanggup menanggung biaya itu plus ongkos transportasi.

”Impor kedelai terakhir yang dilakukan Bulog adalah pada tahun 1996-1997 sehingga perlu membangun jaringan lagi. Apalagi stok kedelai di pasar internasional sangat tipis akibat China yang menyedot kedelai dari pasar,” ujar Bayu.

Bayu menegaskan, kebutuhan dana untuk memberikan subsidi kedelai sebesar Rp 1.000 per kilogram selama dua bulan mencapai Rp 200 miliar.

Berdasarkan catatan pemerintah, produksi kedelai pada 2007 mencapai 608.000 ton dan tahun 2006 sebesar 748.000 ton. Sedangkan impor kedelai 983.000 ton atau lebih rendah dibanding tahun 2006 sebesar 1,132 juta ton. Target produksi kedelai tahun ini sebesar 900.000 ton. (OIN)

20 January 2008

Kompas 17-Jan-08: Kedelai Plus LIPI Dapat Tingkatkan Produktivitas

Kedelai Plus LIPI Dapat Tingkatkan Produktivitas
Artikel Terkait:
Kamis, 17 januari 2008 | 22:05 WIB

CIBINONG, KAMIS - Pusat Penelitian (Puslit) Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) selama ini mengembangkan kedelai plus. Benih yang telah diproses secara khusus ini mampu melipatgandakan produktivitas dua kali dari rata-rata nasional dari 1,2 ton per hektar (ha) menjadi 2,6 ton hingga 3,6 ton per ha.

"Sudah terbukti ditanam di tempat yang sulit untuk kedelai seperti di Musirawas, Sumsel dan beberapa tempat lain di Jawa sejak 2004," kata Peneliti Puslit Bioteknologi LIPI, Harmastini Sukiman M.Agr, di Cibinong Science Center, Bogor, Kamis (17/1).

Meningkatnya produktivitas, ujarnya, karena benih telah mengandung mikroba rhizobium yang diinjeksi ke dalamnya dengan teknologi vakumisasi sehingga ketika ditanam, kandungan nitrogen di dalam tanahnya meningkat 20 persen dan menjadi subur bagi kedelai. Karakter bakteri rhizobium, ujarnya, bersimbiose dengan tanaman kacang-kacangan dan dapat membantu penyerapan Nitrogen dari udara serta mengubahnya menjadi unsur yang tersedia bagi tanaman.

Cara kerjanya, benih kedelai dari varietas apapun diinsersi oleh bakteri rhizobium BTCC-B64 hasil riset LIPI dengan media pertumbuhan YEM-broth lalu dicampurkan oleh alat pencampur dengan teknologi vakum sehingga dihasilkan kedelai Plus. Keuntungan Kedelai Plus, selain produksi biji yang meningkat, juga mudah ditanam oleh petani, dan kebutuhan pupuk berkurang hingga 60 persen.

Sementara itu, Deputi bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Prof Dr Endang Sukara, mengatakan bahwa sebenarnya pada masa Presiden Megawati, kedelai plus ini telah diperkenalkan, namun entah mengapa hasil riset ini hingga kini tidak dipakai secara massal.

"Ini masalah kebijakan, masalah tata niaga yang lebih mengutamakan impor dalam bentuk kedelai jadi, daripada mengembangkan pertanian kedelai," katanya. Padahal, ia mengingatkan, kedelai yang diimpor itu adalah kedelai hasil rekayasa genetik sementara kedelai plus dalam negeri ini asli hayati.(ANT)

http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.01.17.22053221&channel=1&mn=53&idx=16